Selamat Datang

Blog ketahanan hayati jeruk ini mengajak Anda untuk berbagi informasi mengenai tanaman serta hama dan penyakit jeruk. Kami sangat mengharapkan bantuan Anda untuk berkenan berpartisipasi dengan cara menyampaikan informasi mengenai tanaman serta hama penyakit jeruk dari manapun Anda berada. Informasi dapat disampaikan dengan cara menyampaikan komentar di bagian bawah tulisan atau melalui media sosial Fb yang dikaitkan dengan blog ini. Mohon berkenan menjalin pertemanan dengan halaman Fb Ketahanan Hayati Undana dan mengikuti melalui Google+ dengan menambahkan blog ini ke lingkaran Anda.

Saturday, October 8, 2016

Hama Jeruk: Kepik Bau

Kepik merupakan hama yang cukup merusak jeruk, menyerang terutama buah dan pucuk tanaman. Di antara berbagai jenis kepik, terdapat kepik yang bila tubuhnya disentuh mengeluarkan bau yang tidak sedap, itulah kepik bau. Terdapat banyak jenis kepik bau, dua jenis di antaranya merusak tanaman jeruk, yaitu kepik-bau cokelat-lurik dan kepik-bau-hijau selatan. Kedua jenis kepik ini cukup merusak jeruk, khususnya buah, menyebabkan juring buah jeruk menjadi kurang berair. Dari kedua jenis kepik ini, kepik-bau cokelat-lurik belum dilaporkan terdapat di Indonesia, sedangkan kepik-bau-hijau selatan terdapat. Tulisan ini memuat uraian singkat mengenai kedua jenis kepik ini.

Friday, October 7, 2016

Hama Jeruk: Lalat-Buah Selain Bactrocera

Selain lalat-buah bactrocera, terdapat setidak-tidaknya tiga lalat buah yang juga sangat merusak pada jeruk, yaitu lalat-buah caribia, lalat-buah mediterania, dan lalat buah-mexico. Ketiga jenis lalat buah ini dilaporkan bahkan lebih merusak daripada lalat buah bactrocera, tetapi ketiganya belum dilaporkan terdapat di Indonesia. Namun demikian, bukan berarti ketiga jenis lalat buah lainnya tersebut dapat diabaikan mengingat ketiganya merupakan jenis invasif. Di antara ketiga jenis lalat buah tersebut, lalat-buah mediterania dilaporkan sudah terdapat di negara tetangga Australia. Oleh karena itu, lalat-buah mediterania menjadi ancaman serius bukan hanya terhadap jeruk, tetapi terhadap budidaya buah-buahan di Indonesia.

Wednesday, October 5, 2016

Hama Jeruk: Lalat-Buah Bactrocera

Lalat buah bactrocera merupakan kelompok jenis hama yang merusak pada berbagai jenis tanaman buah-buahan dan sayuran. Meskipun selalu disebut dalam tulisan dan diskusi mengenai hama, informasi mengenai jenis-jenis lalat buah yang terdapat di Indonesia dan distribusi geografiknya masih sangat terbatas. Di antara banyak jenis Bactrocera, terdapat jenis-ienis yang juga merupakan hama penting pada jeruk, tetapi informasi mengenai jenis-jenis tersebut dan statusnya sebagai hama penting pada tanaman jeruk di Indonesia belum tersedia. Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan informasi dasar mengenai lalat buah bactrocera pada jeruk untuk menggugah para piahk menyampaikan informasi mengenai kisaran inang dan distribusi geografiknya.

Sunday, October 2, 2016

Penyakit Jeruk: Kanker Jeruk

Kanker jeruk merupakan penyakit jeruk yang sangat merusak dan mempunyai distribusi geografis yang sangat luas, termasuk mencakup pusat-pusat produksi jeruk di Indonesia. Jenis-jenis jeruk yang rentan di Indonesia adalah jeruk purut (Citrus histryx), jeruk nipis (C. aurantifolia), dan jeruk bali (C. maxima Merr.) yang dibudidayakan di dataran rendah pada kisaran suhu 20-35°C. Namun penyakit ini juga dapat masalah pada jeruk cina (Citrus reticulata) bila di lokasi budidaya jeruk tersebut terdapat jenis-jenis jeruk yang rentan. Gejala penyakit pada buah menyebabkan tampilan buah menjadi kurang menarik sehingga dapat menurunkan harga.

Saturday, October 1, 2016

Penyakit Jeruk: Gumosis, Busuk Pangkal-Batang, dan Busuk-Akar Phytophthora

Penyakit gumosis, busuk pangkal-batang, dan busuk-akar merupakan penyakit yang sangat merusak tanaman jeruk di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Di Indonesia penyakit ini mempunyai sebaran geografik yang luas, termasuk di NTT. Namun gejala gumosis pada penyakit ini sama dengan gejala gumosis pada penyakit gumosis dan busuk pangkal-buah diplodia sehingga kedua penyakit sering dikacaukan satu sama lain. Padahal, karena penyakit ini jauh lebih merusak, deteksi seharusnya difokuskan lebih terhadap penyakit ini dibandingkan dengan terhadap penyakit gumosis dan busuk pangkal-buah diplodia. Tulisan ini dimasudkan untuk memberikan panduan untuk mengidentifikasi penyakit ini di lapangan.